notes of an ambivert
dulu kalo mulai masuk masa-masa libur sekolah, satu hal yang menjadi kebiasaan gw adalah pergi ke tempat tante (sekalian ngunjungin kakak) di surabaya, sempet beberapa kali extend ke jakarta. rasanya excited banget kalo udah mau liburan, pergi ke kota besar dan liat macem-macem hal yang jarang bisa ditemukan di kalimantan. mengingat masih mahalnya tiket pesawat di masa itu (akhir 90an), perjalanan gw selalu menggunakan kapal laut atau ferry. masih inget juga, kapal pertama yang gw tumpangi adalah sebuah ferry bernama km. dharma kencana.
memori yang selalu gw inget setiap naik kapal laut adalah menghabiskan waktu selama mungkin di dek paling atas, menikmati hembusan angin kencang dan melamun gak jelas mengenai banyak hal (ga heran sekarang kerjaannya galau mulu). gak tau alasannya apa, yang jelas gw sangat menikmati masa-masa ini. bau laut, bau khas kapal, melihat para penumpang, goyangan kapal ketika menerjang ombak, semuanya. dari semua perjalanan laut ini, surabaya selalu menjadi tujuan, cuman keberangkatannya aja dari dua tempat yang berbeda yaitu banjarmasin dan sampit. saat-saat hendak merapat di pelabuhan tanjung perak juga merupakan saat-saat yang ga pernah bisa gw lupain. banyak kapal lalu-lalang, bersandar, tumpukan peti kemas yang sangat banyak, pulau madura, dan patung jalesveva jayamahe yang terlihat angkuh dari kejauhan.
perjalanan dari kalimantan ke surabaya biasanya memakan waktu rata-rata 20 jam. bisa kurang, bisa lebih. yah bisa dibilang bermalam di sebuah kapal. pernah juga ada kapal ferry cepat dan gw kapok naik itu karena justru mabok laut. kecepatan kapalnya tinggi, jadi berasa kayak naik jet coaster raksasa selama 8 jam.
seiring dengan banyaknya airline bertiket murah, gw juga mulai menggunakan pesawat untuk bepergian jarak jauh. seinget gw, perjalanan terakhir dengan kapal laut adalah tahun 2003. selain harga tiket yang hampir sama dengan pesawat, durasi perjalanan juga menjadi pertimbangan nyokap untuk memilih pesawat (gw ga pernah pergi sendiri, dan gw juga penggila pesawat sejak sd).
kalo ditanya apakah mau lagi pergi dengan menggunakan kapal laut, sebenarnya masih. tapi entah kenapa keinginan itu gak sebesar dulu lagi. hal ini mungkin disebabkan karena faktor pesawat yang lebih praktis, selain itu juga lokasi gw tinggal sekarang (bandung) jauh dari pelabuhan laut.
dari pengalaman ini, gw ngambil satu kesimpulan bahwa ada beberapa hal yang hanya menyenangkan untuk dikenang, tidak untuk dilakukan kembali. mungkin karena banyak hal telah berubah, mencoba melakukan hal yang dulu pernah dilakukan gak akan pernah sama lagi rasanya. bahkan kalo masih nekat mau nyoba, jatohnya ga bakal lucu lagi.
well, gimana pun juga kenangan ini menjadi saat-saat yang menyenangkan bagi kenangan masa kecil gw. mengingatkan diri gw yang sekarang bahwa dulu sering melakukan liburan (meskipun ke tempat yang itu-itu lagi) dan tiap orang ada jatah dan rezekinya *masih nyesek sekarang jarang banget liburan*
enjoy your life, fellas! :)

(Source: leilockheart)
Here are two design schemes from Jetabout of the upcoming Boeing 787-9 Dreamliner in both standard and All Black Air New Zealand livery. I can’t wait to see the Dreamliner take off with Air New Zealand colors, although it would be more awesome (in my opinion) if one jet flew with All Black colors.
(via the-boeing)
eits, jangan mikir yang ga bener kalo baca judul ini. kenapa gw pasang kalimat diperkosa sebagai judul, ada alesannya.
pernah denger kan ada pepatah ngaco yang kurang lebih bunyinya; “idup itu kayak diperkosa, kalo ga bisa ngelawan yaudah dinikmatin aja”. kurang lebih ini yang sedang terjadi dalam idup gw.
as we know, pekan uas jahanam telah berakhir dan ada jeda waktu seminggu sebelum masuk masa semester pendek. dengan adanya libur ini, adalah selayaknya dan sepatutnya seseorang pergi sebentar dari kehidupannya sehari-hari dan berkencan dengan sebuah kata surgawi yang kita kenal sebagai ‘liburan’. seperti orang kebanyakan, gw juga pengen (ngebet, malah) melakukannya. kalo diingat-ingat lagi, sudah lamaaaa banget semenjak gw terakhir merasakan yang namanya pergi liburan.
harapan-harapan awal akan serunya sweet escape bubar jalan begitu saja ketika ternyata dari awal si mamah udah bilang nggak, pas gw bilang mau liburan. yah mau gimana lagi, kucuran moneter sumbernya dari beliau jadi aja gw ga bisa berkutik. sekali lagi, cuman jadi ‘penonton’ timeline anak-anak yang excited dengan rencana libur masing-masing. sirik? jelas. cranky? pasti.
mau bikin rencana liburan autis sendiri, lagi-lagi terbentur masalah yang sama: kere. sekarang, buat makan doang lagi mikir banget cyin apalagi buat main-main. minta kiriman sama si mamah juga ga enak, karena kemaren baru daftar les.
yah, kayaknya kali ini emang (lagi-lagi) harus menahan diri. kalo dipaksain jatohnya juga jadi ga enak kan. mau gak mau, nikmatin ajalah. mungkin ada hikmahnya, dikasih jatah istirahat seminggu sebelum kembali memulai aktivitas di semester padat ntar. mungkin juga mamah lagi bokek jadi ga ngasih liburan, siapa yang tau.
keadaannya kayak gini, yah sama kayak korban perkosaan. mau ngelawan, jatohnya ga jadi hasil, malah bisa-bisa tambah cedera. jadi nikmatin aja, seiring dengan berjalannya waktu yang mengalir kayak sungai cikapundung.
selamat menikmati liburan buat kalian yang lagi pergi liburan, dan selamat menikmati masa gabut buat kita yang ga pergi kemana-mana.
cheers!